![]()
Jombang, medianupakuniran.com – Nama Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari dikenal luas sebagai pendiri Nahdlatul Ulama sekaligus ulama besar yang memiliki pengaruh kuat dalam bidang keilmuan Islam. Meski tidak secara khusus dikenal sebagai kiai tarekat atau tokoh tasawuf praktis, kedalaman spiritual dan kekuatan ibadah beliau telah melahirkan berbagai kisah karomah yang hingga kini masih diceritakan oleh para santri dan saksi hidup.
Dalam sejumlah literatur, KH. Hasyim Asy’ari memang dikenal kritis terhadap praktik kesufian yang berlebihan. Namun, beliau sama sekali tidak menolak tasawuf selama tetap berada dalam koridor syariat. Kehidupan beliau dikenal sangat disiplin dalam ibadah; mulai dari shalat malam, puasa sunnah, dzikir, hingga amal-amal saleh lainnya.
Berikut ini adalah beberapa kisah karomah KH. Hasyim Asy’ari yang dihimpun dari kesaksian para santri, sebagaimana disampaikan melalui wawancara dengan KH. Abu Bakar dan Mbah Ahmad Thaib, santri beliau yang masih hidup.
KH. Abu Bakar, santri kalong Hadratussyaikh, memberikan kesaksian bahwa KH. Hasyim Asy’ari mampu mengetahui isi hati seseorang tanpa diucapkan. Suatu ketika, Abu Bakar muda melintas di kawasan prostitusi dekat Pondok Pesantren Tebuireng dan sempat berprasangka buruk dalam hatinya tentang kondisi lingkungan tersebut.Tanpa pernah menceritakan isi pikirannya, keesokan harinya KH. Hasyim Asy’ari menyampaikan dawuh yang seolah langsung menegur batin Abu Bakar.
“Begini ya, Nak, kamar mandi itu ada tempat pembuangannya. Kalau tidak ada pembuangan, bagaimana bisa punya kamar mandi,” dawuh beliau.
Ucapan tersebut membuat Abu Bakar tersentak, merasa dinasihati secara langsung atas prasangka buruk yang ia simpan dalam hati. Sejak saat itu, ia berusaha menjaga hati dan tidak mudah berprasangka.
Dalam kesempatan lain, Abu Bakar juga pernah berniat pulang tanpa mengikuti shalat jamaah. Namun KH. Hasyim Asy’ari tiba-tiba memanggil dan memintanya untuk ikut shalat berjamaah terlebih dahulu, seolah mengetahui niatnya sebelum diwujudkan.
Mampu Mengidentifikasi Kebohongan
Kisah lain datang dari penuturan almarhum KH. Tahmid, santri senior asal Brebes. Suatu hari, ketika dipanggil KH. Hasyim Asy’ari, ia belum melaksanakan shalat. Saat ditanya, ia mengaku telah shalat, padahal belum.
Tanpa ragu, KH. Hasyim Asy’ari langsung memerintahkannya untuk shalat dengan nada tegas. KH. Tahmid mengaku tubuhnya gemetar dan tak mampu bergerak hingga KH. Hasyim Asy’ari menepuk pundaknya.
“Sana shalat dulu. Lain kali jangan gugup dan jangan bohong,” pesan beliau.
Setelah itu, tubuh KH. Tahmid kembali terasa ringan dan ia segera melaksanakan shalat. Peristiwa ini memperkuat keyakinan para santri bahwa KH. Hasyim Asy’ari mampu membaca kejujuran seseorang.
Rumah Miring Menjadi Tegak Kembali
Kesaksian berikutnya disampaikan oleh Mbah Ahmad Thaib, santri kalong asal Cukir. Ia pernah mengeluhkan rumahnya yang miring dan hampir roboh. Mendengar hal tersebut, KH. Hasyim Asy’ari langsung mendatangi rumahnya. Tanpa alat apa pun, KH. Hasyim Asy’ari hanya menggoyangkan bagian rumah yang miring. Atas izin Allah, rumah tersebut kembali berdiri tegak. Kejadian ini membuat Ahmad Thaib terkejut sekaligus bersyukur, karena perbaikan rumah tersebut sejatinya membutuhkan biaya besar dan waktu lama.
Menghentikan Mesin Giling Pabrik Gula Tjoekir
Karomah lain yang cukup masyhur terjadi di masa penjajahan Belanda. Ketika santri Tebuireng dipukuli mandor Belanda karena mengambil tebu yang tercecer dari lori terguling, KH. Hasyim Asy’ari merasa sangat geram.Beliau mendatangi Pabrik Gula Tjoekir dan, dengan izin Allah, menyebabkan mesin penggilingan berhenti beroperasi selama tiga hari. Pabrik mengalami kerugian besar hingga akhirnya pihak Belanda datang meminta maaf secara langsung.
Sejak saat itu, santri Tebuireng dibiarkan mengambil tebu tanpa gangguan, hingga pabrik tersebut diambil alih oleh Jepang dan kemudian dinasionalisasi oleh pemerintah Indonesia.
Ulama Besar dengan Ilmu dan Ibadah yang Seimbang
Terlepas dari berbagai kisah karomah tersebut, para santri sepakat bahwa KH. Hasyim Asy’ari adalah manusia biasa yang keistimewaannya terletak pada kedalaman ilmu, keikhlasan ibadah, serta kedekatan luar biasa dengan Allah SWT.
Kisah-kisah ini bukan untuk mendewakan, melainkan sebagai pengingat bahwa ketakwaan, kejujuran, dan kesungguhan dalam beragama dapat melahirkan keberkahan yang luar biasa.
Sumber: Tebuireng Online, wawancara dengan KH. Abu Bakar dan Mbah Ahmad Thaib.
Redaksi: Media NU Pakuniran
Baca Juga:







