Seiring munculnya banyak organisasi pada saat itu, Ulama senusantara ingin mendirikan jam’iyah (organisasi) dengan ideologi Ahlusunnah Wal Jamaah. Keinginan ini didasari oleh aliran-aliran yang menyimpang dari ulama-ulama salaf atau keluar ajaran Islam yang dikembangkan oleh Wali Songo.
Pada tahun 1920 berkumpullah 60 Ulama senusantara yang diantaranya KH. Hasyim As’ari, KH. Abdul Wahab Chasbullah, KH. Bisri Syamsuri, dll di rumah Kiai Muntaha (mantu KH. Moh. Kholil Bangkalan) Jangkebuwan Bangkalan Madura. Para ulama saling dorong satu sama lain untuk sowan ke KH. Moh. Kholil atas iktikad dan ikhtiyar tersebut. Namun ditengah-tengah diskusi yang cukup alot datanglah Kiai Nasib menemui para ulama’ dengan membawa isyarat dari KH. Moh Kholil berupa ayat
يُرِيدُونَ أَن يُطْفِؤُواْ نُورَ اللّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللّهُ إِلاَّ أَن يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ ﴿۳۲﴾
“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.” (QS. at-Taubat ayat 32)
Seketika itu diskusi bubar karena belum ada restu dari KH. Moh. Kholil dalam mendirikan jam’iyah. Karena didasari sudah ada Jam’iyah Muhammadiyah yang sudah beraliran Ahlusunnah Wal-jamaah.
Pada tahun1924 Ulama berkumpul kembali yang bertempat di Surabaya untuk membahas mendirikan Jam’iyah. Karena selepas Kiai Ahmad Dahlan wafat, pendiri Muhammadiyah, Muhammadiyah dilanjutkan oleh akademisi alumni Arab Saudi yang berpaham Wahabi. Namun lagi-lagi belum menemukan keputusan untuk mendirikan jam’iyah dengan dalih sangat hati-hati dan takut menjadi bumerang atau perpecehan terhadap umat Islam yang berpaham Ahlusunna Wal jamaah di Indonesia.
Pada tahun tersebut KH. Moh. Kholil mengutus santrinya, KH. As’ad untuk mengantarkan tongkat ke KH. Hasyim As’ari di Tebuireng Jombang serta dibacakan ayat
وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَا مُوسَى ﴿١٧﴾ قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَى غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَى ﴿١٨﴾ قَالَ أَلْقِهَا يَا مُوسَى ﴿١٩﴾ فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَى ﴿٢٠﴾ قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الْأُولَى ﴿٢١﴾
“Apakah itu yang di tangan kananmu hai Musa? Berkata Musa: “Ini adalah tongkatku, aku berpegangan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya.” Allah berfirman: “Lemparkanlah ia, hai Musa!” Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Allah berfirman: “Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula.” (QS. Taha, 21)
Setelah itu KH. Hasyim As’ari bersyukur dan berkata “Ini tongkatnya Nabi Musa As. Saya akan melanjutkan Jam’iyah ini.”
Pada tahun yang sama Kiai As’ad diutus lagi oleh KH. Moh. Kholil ke Tebuireng Jombang agar menemui Kiai Hasyim As’ari untuk mengantar tasbih dan bacaan ياجبار، ياجبار، ياجبار. ياقهار، ياقهار، ياقهار (Ya Jabbar, Ya Jabbar, Ya Jabbar. Ya Qahhar, Ya Qahhar, Ya Qahhar).
Pada tahun 1925 betepatan 29 Ramadhan KH. Moh Kholil wafat dan satu tahun setelahnya, tahun 1926 Jamiyah Nahdhatul Ulama’ berdiri.
Selamat Harlah NU ke-93
31 Januari 2019
- Tulisan ini dikutip dari pidatonya KH. Makki Nasir pada acara Lailatul Ijtimak Bandang Lao kec. Kokop 2016 yang saat ini beliau menjadi ketua Tanfidziyah PC NU Bangkalan. Jika ada kesalahan mohon sarannya untuk perbaikan
