Pakuniran, Medianupakuniran. Com – Seusai salat tarawih sekitar pukul 20.00 WIB, Selasa (24/02/2026), panitia rehab Kantor MWC NU Pakuniran berkumpul di rumah Amin Wahyudi. Malam itu agenda ngobar—ngopi bareng yang hangat namun tetap produktif.
Di teras rumah yang sederhana, cangkir-cangkir kopi tersaji menemani pembahasan tahap demi tahap penyempurnaan renovasi kantor. Obrolan mengalir santai, tetapi substansinya tetap serius. Beberapa catatan teknis dibahas, solusi dirumuskan, dan langkah lanjutan direncanakan bersama.
Suasana semakin cair ketika Agus Mulyanto mengutip candaan almarhum Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. “Orang yang membicarakan NU hingga larut malam itu orang gila NU,” ujarnya. Tawa pun pecah, mencairkan malam yang kian larut.
Namun di sela suasana santai itu, Amin Wahyudi menyampaikan orasinya yang cukup lantang. Dengan nada tegas, ia menegaskan bahwa tanggung jawab merawat organisasi ada di tangan kita bersama.
“Kita ini sahabat-sahabat sebagai orang NU itu jangan sombong, jangan mengatakan ayo kita besarkan NU. Tidak perlu, NU itu sudah besar.
Jadi, mari kita berkhidmat di NU untuk menjaga NU bukan membesarkan. Kita harus bisa menjaga, NU itu sudah besar yang diciptakan oleh Mbah Hasyim itu.

Jadi jangan sok gaya aku ingin besarkan NU. Siapa sampean? Kita ini hanya orang-orang kecil yang bisa, berkhidmat hidupkan NU.
Jadi ayolah kita bareng-bareng berusaha berjuang menikmati NU. menikmati kita ini.!!” ujarnya.
Pernyataan tersebut menjadi penegas arah diskusi malam itu. Renovasi kantor bukan sekadar membenahi bangunan fisik, melainkan bagian dari upaya menjaga marwah dan keberlanjutan organisasi.
Hingga mendekati pukul 24.00 WIB, perbincangan tetap berlangsung dalam suasana akrab. Malam itu membuktikan bahwa gagasan tentang NU bisa lahir di mana saja—bahkan dari ruang tamu sederhana, ditemani secangkir kopi dan semangat kebersamaan.
