Probolinggo — Penetapan Hari Raya Idul Fitri tahun ini kembali berbeda. Warga Nahdlatul Ulama (NU) menetapkan 1 Syawal jatuh pada hari Sabtu setelah hilal tidak terlihat dan bulan Ramadhan disempurnakan menjadi 30 hari.
Sementara itu, Muhammadiyah lebih dulu menetapkan Idul Fitri pada hari Jumat berdasarkan metode hisab atau perhitungan astronomi.
Perbedaan ini merupakan hal yang sudah lama terjadi di Indonesia, karena adanya dua metode penentuan awal bulan Hijriyah, yaitu rukyat (pengamatan hilal) dan hisab. Keduanya memiliki dasar keilmuan dan dalil yang kuat.
🕌 Pemerintah Jadi Penengah
Pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia menggelar sidang isbat untuk menentukan tanggal resmi secara nasional. Masyarakat diimbau mengikuti keputusan tersebut demi menjaga ketertiban dan persatuan.
🤝 Utamakan Kebersamaan
Tokoh masyarakat mengajak umat Islam untuk tetap saling menghormati perbedaan. Tidak perlu memperdebatkan secara berlebihan, karena tujuan utama Idul Fitri adalah mempererat silaturahmi dan saling memaafkan.
🌙 Makna Lebaran Tetap Sama
Meski berbeda hari, Idul Fitri tetap menjadi momen kemenangan setelah menjalankan ibadah puasa. Nilai kebersamaan, kepedulian, dan persaudaraan harus tetap dijaga.
📌 Pesan Akhir
Perbedaan adalah hal biasa, namun persatuan harus selalu diutamakan.
“Boleh beda hari raya, tapi hati tetap satu.”
