MEDIANUPAKUNIRAN, PAKUNIRAN, 28/04/2026 – Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Pakuniran kembali menggelar kegiatan rutin bulanan Lailatul Ijtima’ sebagai sarana penguatan organisasi dan spiritualitas warga Nahdliyin. Acara yang berlangsung pada Selasa malam (malam Rabu), 28 April 2026, ini dipusatkan di Kantor MWC NU Pakuniran mulai pukul 19.00 WIB.
Suasana khidmat menyelimuti awal acara yang dibuka dengan pembacaan Istighosah oleh Ustad Khalis, dilanjutkan dengan pembacaan Sholawat Nabi yang dipimpin oleh Ustad Misbah.
Hadir dalam agenda besar ini, rombongan LAZISNU PC Kota Kraksaan, seluruh Pengurus Ranting NU se-Kecamatan Pakuniran, serta jajaran Badan Otonom (Banom) seperti Ansor, Pagar Nusa, Media NU, dan Muslimat NU.

Dalam sambutannya, H. Muzammil memberikan catatan penting mengenai kondisi organisasi saat ini. Beliau menegaskan bahwa keberhasilan NU di tingkat atas (cabang hingga pusat) harus diimbangi dengan keaktifan di akar rumput.
“Pergerakan NU di tingkat atas sudah sangat optimal, namun ekspektasi kita adalah tingkat Ranting juga harus menunjukkan performa yang sama. Kita tidak ingin semangat ini hanya berkumpul di atas,” tegas H. Muzammil.
H. Muzammil juga menyoroti LAZISNU MWC NU Pakuniran yang sebelumnya menjadi ‘idola’ atau percontohan namun belakangan ini dirasa mulai redup. Tak lupa, kritik membangun juga ditujukan pada sektor pendidikan. Menurutnya, Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif harus lebih memperkuat kurikulum Ke-Aswajaan-an agar identitas santri tetap terjaga, sekaligus mengajak kembali lembaga-lembaga pendidikan di bawah naungan NU untuk aktif bersinergi dengan LP Ma’arif.

Sekretaris PC LAZISNU Kota Kraksaan, Muhtada, dalam penyampaiannya menekankan filosofi dari kehadiran LAZISNU. Menurutnya, lembaga ini bukan sekadar pengumpul dana, melainkan instrumen dakwah untuk mengajarkan warga NU gemar bersedekah.
“LAZISNU hadir untuk mengedukasi warga agar menyisihkan sedikit hartanya. Kami pun berkewajiban mendoakan para donatur agar harta yang disedekahkan menjadi barokah bagi kemaslahatan umat,” ujar Muhtada.
Ia juga membawa kabar penting bahwa PW LAZISNU Jawa Timur tengah melakukan penertiban administrasi secara masif. Menariknya, MWC NU Pakuniran terpilih sebagai Pilot Project (proyek percontohan) dalam penataan administrasi yang transparan dan akuntabel tersebut.

Ketua Satgas Pengkaderan MWC NU Pakuniran, Ahmad Sutikno, memaparkan visi besar pencetakan kader. Saat ini, fokus utama adalah mencetak kader militan melalui kegiatan PD-PKPNU secara masif di tingkat kecamatan. Bahkan, menyambut Muktamar NU mendatang, direncanakan sebuah Apel Akbar yang akan digelar di Pantai Bentar.
Terkait infrastruktur, laporan mengenai Rehab Kantor MWC NU Pakuniran menunjukkan progres yang menggembirakan. Melalui semangat gotong royong, dana sumbangan umat yang terkumpul kini mencapai Rp 66.626.000.
“Transparansi adalah komitmen kami. Setiap perkembangan dana dan penggunaan anggaran pembangunan selalu di-update secara berkala melalui grup WhatsApp MWC NU Pakuniran agar seluruh warga bisa memantau langsung,” jelas Ahmad Sutikno.

Sesi dialog menjadi ajang penyampaian kendala di lapangan. H. Syafiudin mengangkat permasalahan teknis pengelolaan ‘Koin NU’ di Desa Gunggungan Kidul agar lebih terorganisir. Sementara itu, Lukman selaku Ketua JPZIS Bucor Kulon, memberikan kritik konstruktif terhadap program Pengurus Wilayah (PW). Ia meminta agar kebijakan dari atas dikaji kembali agar tidak merusak pola atau strategi yang sudah berjalan sukses dan mapan di tingkat desa.

Acara diakhiri dengan doa yang dipimpin oleh Kiai Faqih, selaku Rais Syuriah MWC NU Pakuniran. Sebelum memimpin doa, Kiai Faqih memberikan wejangan agar pengurus harian senantiasa melakukan kajian mendalam terhadap setiap program baru. Tujuannya jelas: agar setiap kebijakan yang turun tidak berbenturan dengan kearifan lokal atau sistem yang sudah berjalan harmonis di tingkat bawah.
(AF / Team )
