Tema Hari Santri Nasional 2026 menegaskan peran strategis santri dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Santri bukan hanya pelajar Pesantren. Melainkan penjaga moral bangsa dan tradisi keagamaan. Di tengah arus modernisasi, akar tradisi menjadi jangkar identitas nasional. Oleh karena itu, menguatkan tradisi berarti menjaga negeri dari degradasi nilai.
Santri menguatkan akar tradisi dengan istiqomah mengkaji kitab kuning, Al-Qur’an dan Sunnah. Tradisi seperti musyawarah, tawadhu’ dan ta’dzim kepada guru dijaga dalam kehidupan sehari-hari. Penguatan ini dilakukan melalui pendidikan pesantren yang sistematis dan berkelanjutan. Dengan cara itu, tradisi tidak menjadi fosil. Tapi, menjadi nilai hidup yang relevan.
Tradisi Nahdlatul Ulama seperti Lailatul Ijtima, tahlilan, yasinan, sholawatan dan manaqib adalah ekspresi amaliah Ahlussunnah wal Jamaah an-nahdliyah. Santri melestarikannya dengan mengamalkannya di masjid, musholla dan majelis masyarakat. Santri juga menggunakan media dakwah digital untuk menjelaskan makna tradisi agar tidak disalah pahami. Upaya ini menjaga keberagaman yang moderat dan menolak paham ekstrem yang memecah belah.

Muassis Nahdlatul Ulama seperti Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari mewariskan semangat keilmuan dan kebangsaan. Santri sebagai penerus berkewajiban melanjutkan visi tersebut dengan belajar sungguh-sungguh. Perjuangan itu diwujudkan melalui pengabdian di lembaga pendidikan, dakwah dan sosial kemasyarakatan. Dengan demikian, sanad perjuangan keulamaan tetap tersambung dari generasi ke generasi.
Sejarah mencatat Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yang difatwakan KH Hasyim Asy’ari menjadi pemicu perjuangan. Ulama dan santri berbondong-bondong mempertahankan kemerdekaan dengan harta dan nyawa. Peristiwa pertempuran 10 November 1945 di Surabaya menjadi bukti nyata kesetiaan tersebut. Pengorbanan itu membuktikan bahwa nasionalisme adalah bagian dari iman.
Saat ini tantangan menjaga negeri berbeda bentuknya, berupa hoaks, intoleransi dan disintegrasi. Santri dan ulama siap istiqomah menjaga negeri dengan memperkuat literasi dan moderasi beragama. Mereka berperan aktif dalam membangun kerukunan dan menolak segala bentuk kekerasan atas nama agama. Komitmen ini menjadi benteng moral bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Di Kecamatan Pakuniran Probolinggo, kekompakan ulama, santri dan warga nahdliyin terlihat sangat solid. Mereka bersinergi dalam kegiatan keagamaan, pendidikan pesantren dan sosial kemasyarakatan MWC NU Pakuniran. Upacara Hari Santri Nasional 2026 menjadi momentum memperkuat persatuan tersebut. Dengan kebersamaan, tradisi ke-NU-an terus hidup dan memberikan manfaat nyata bagi warga. Inilah wujud konkret peran santri menguatkan akar tradisi dan menjaga negeri dari desa untuk Indonesia.
Opini Redaksi
MediaNu_Pakuniran
LTN MWC NU
