Pakuniran,medianupakuniran.com – Keinginan setiap orang tua agar anak mampu membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar merupakan harapan yang mulia. Namun, di era digital saat ini, harapan tersebut menghadapi tantangan yang tidak ringan. Kehadiran gawai dan derasnya arus media sosial telah menyita sebagian besar waktu generasi muda. (5/7/2026)
Ketua PAC JQH MWC NU Pakuniran, Ustadz Misbah, menilai bahwa generasi muda sejatinya bukan menjauhi Al-Qur’an. Menurutnya, yang perlu dibenahi adalah cara mengenalkan dan mengajarkan Al-Qur’an agar lebih menarik, tanpa meninggalkan nilai-nilai yang benar.
“Tantangan hari ini jauh lebih berat dibandingkan masa lalu. Dulu musuh kita hanya televisi, sekarang anak-anak hampir setiap saat memegang handphone. Di dalamnya ada gim, media sosial, hiburan, dan berbagai konten yang terus berganti. Tantangan terbesar kita adalah algoritma media sosial, terutama TikTok, yang mampu mengubah perhatian anak hanya dalam hitungan detik,” ujarnya.
Menghadapi kondisi tersebut, PAC JQH MWC NU Pakuniran telah menyiapkan sejumlah strategi untuk memperkuat pembinaan Al-Qur’an di tingkat akar rumput, di antaranya:
- Memperkuat koordinasi dengan seluruh TPQ di bawah binaan PAC JQH NU Pakuniran.
- Mengoptimalkan pembinaan guru TPQ melalui penguatan metode Tartila.
- Menyelenggarakan lomba Tartil Al-Qur’an secara rutin setiap tahun bekerja sama dengan LPTQ Kecamatan Pakuniran.
Ustadz Misbah menegaskan bahwa keluarga memegang peran yang sangat menentukan dalam membentuk kecintaan anak terhadap Al-Qur’an. Sebab, sebagian besar waktu anak dihabiskan bersama orang tua, sementara waktu belajar di TPQ relatif terbatas.
“Orang tua harus menjadi teladan. Sisihkan waktu setiap hari untuk membaca Al-Qur’an bersama keluarga. Keteladanan akan lebih mudah ditiru anak daripada sekadar nasihat,” jelasnya.
Ia juga mengajak masyarakat mengubah cara pandang terhadap Al-Qur’an. Menurutnya, Al-Qur’an bukanlah beban, melainkan sumber ketenangan dan penguat jiwa.
“Jangan jadikan Al-Qur’an sebagai beban. Jadikan ia sebagai charger bagi hati, sebagaimana kita mengisi daya handphone yang kehabisan baterai. Ketika hati gelisah, resah, atau dihimpit banyak persoalan, bacalah Al-Qur’an. Satu ayat yang direnungi dapat memberikan ketenangan yang lebih bermakna daripada berjam-jam berselancar di media sosial.”
Ke depan, PAC JQH MWC NU Pakuniran menargetkan dalam satu hingga dua tahun mendatang seluruh TPQ binaannya tidak hanya mampu mencetak santri yang fasih membaca Al-Qur’an, tetapi juga memiliki hafalan yang baik serta mampu membaca Al-Qur’an dengan seni baca (bi at-taghanni atau qira’ah).
Reporter: Ahmad Zaen
Editor: Redaksi
Publisher: Saiful Hq
