Kehadiran dalam Lailatul Ijtima menjadi kewajiban moral bagi seluruh pengurus NU. Forum ini bukan sekadar pertemuan rutin bulanan. Ia adalah jantung penggerak roda organisasi di tingkat MWC dan Ranting.
Lailatul Ijtima bermakna menyambung ikatan sanad dengan para Muassis NU. Melalui tahlil, istighotsah, Sholawat Nabi, dan pembacaan manaqib, kita kembali mengingat jasa dan perjuangan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari. Ikatan batin ini menjaga agar gerak organisasi tetap dalam koridor khittah. Dengan begitu khidmah yang kita lakukan tetap tersambung dengan barokah muassis.
Selain itu, Lailatul Ijtima menjadi ruang evaluasi organisasi. Setiap kegiatan yang telah berjalan dievaluasi secara terbuka dan objektif. Hasil evaluasi tersebut menjadi pijakan untuk perbaikan program selanjutnya.

Makna lainnya adalah sebagai media konsolidasi organisasi. Soliditas pengurus MWC, Ranting, Banom dan Lembaga diperkuat di forum ini. Konsolidasi ini penting untuk menyatukan persepsi dan langkah perjuangan ke depan.
Lailatul Ijtima juga menjadi wadah sharing program antar Ranting NU dan UPZIS. Setiap Ranting mempresentasikan program unggulan dan inovasi sosial keagamaan yang telah dijalankan. UPZIS MWC dan UPZIS Ranting saling berbagi pengalaman dalam pengelolaan zakat, infak dan sedekah. Dari sini terjadi transfer pengetahuan dan inspirasi antar wilayah. Kolaborasi ini mendorong pemerataan kemajuan organisasi di seluruh MWC.
Terakhir, Lailatul Ijtima bermakna untuk menambah ghiroh dan motivasi berkhidmah di NU. Pertemuan yang intens melahirkan semangat baru dalam berjuang. Ceramah dan mauidhoh hasanah dari para kiai membakar kembali semangat keikhlasan. Sehingga pulang dari Ijtima, pengurus kembali dengan energi dan loyalitas yang lebih tinggi untuk membesarkan NU.
Tim Redaksi
