Medianupakuniran.com – Memasuki usia ke-97 tahun, Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif NU terus meneguhkan jati dirinya sebagai pilar pendidikan Nahdlatul Ulama yang telah mengabdi sejak jauh sebelum Indonesia merdeka. Berakar dari Muktamar NU ke-4 di Semarang, LP Ma’arif lahir sebagai ikhtiar mencerdaskan umat melalui pendidikan Islam Ahlussunnah wal Jama’ah.
Selama hampir satu abad, Ma’arif tidak hanya mengelola madrasah dan sekolah, tetapi juga menanamkan nilai ke-NU-an, kebangsaan, dan akhlakul karimah. Kehadirannya menjadi jembatan yang menghubungkan tradisi keilmuan pesantren dengan pendidikan formal yang adaptif terhadap perkembangan zaman.
Kekuatan LP Ma’arif juga terletak pada sinerginya dengan badan otonom dan lembaga di lingkungan NU. Muslimat, Fatayat, GP Ansor, IPNU-IPPNU, hingga Lazisnu, LTMNU, LDNU, dan LTNNU memiliki peran strategis dalam memperkuat layanan pendidikan, pengembangan sarana, serta publikasi. Kolaborasi inilah yang membentuk ekosistem pendidikan Nahdliyin yang kokoh dan berkelanjutan.

Di bidang literasi, LP Ma’arif terus menghadirkan berbagai inovasi melalui Gerakan Literasi Ma’arif. Program ini mendorong peserta didik untuk gemar membaca, menulis, berpikir kritis, sekaligus memahami moderasi beragama. Para guru pun dibekali kompetensi literasi digital agar mampu mendampingi generasi muda menghadapi tantangan era modern tanpa kehilangan identitas Aswaja.
Bagi warga Nahdliyin, Ma’arif bukan sekadar lembaga yang melahirkan ijazah, melainkan benteng penjaga sanad keilmuan, amaliyah, dan tradisi NU. Menyekolahkan anak di Ma’arif berarti menanamkan ilmu, akhlak, serta kecintaan kepada agama dan tanah air dalam satu kesatuan nilai.
Memperingati Harlah ke-97 ini menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama: menjadikan LP Ma’arif NU sebagai rumah besar pendidikan yang terus melahirkan generasi berilmu, berkarakter, dan siap mengabdi bagi agama, bangsa, dan Nahdlatul Ulama.
Tim Redaksi – Opini Kita
