Pemuda adalah aset paling berharga bagi masa depan bangsa dan agama. Di tangan pemudalah nasib peradaban akan ditentukan arahnya. Namun, hari ini pemuda sedang berada di persimpangan jalan yang penuh tantangan. Arus zaman yang begitu cepat telah melahirkan persoalan baru yang tidak sederhana.
Teknologi sejatinya adalah alat untuk memudahkan kehidupan manusia. Tapi, kemajuan teknologi yang tanpa batas kini justru menjadi ujian berat bagi pemuda. Banyak pemuda yang menjadi pengguna pasif, bukan pencipta yang produktif. Akibatnya, mereka hanyut dalam arus teknologi tanpa mampu mengendalikannya.
Fenomena kecanduan game online kini telah menjadi penyakit sosial di kalangan pemuda. Waktu belajar, waktu ngaji, dan waktu berinteraksi dengan keluarga habis di depan layar gawai. Di sisi lain, wabah belanja online juga melanda dengan masif melalui e-commerce dan live shopping. Budaya klik dan bayar telah membuat pemuda tidak bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Banyak yang rela berutang melalui paylater demi gaya hidup yang semu. Inilah dua virus kekinian yang perlahan menggerus produktivitas pemuda.

Budaya konsumtif adalah kebiasaan membeli sesuatu bukan karena butuh, tetapi karena ingin terlihat hebat. Generasi muda hari ini lebih bangga dengan merek pakaian daripada kualitas ilmunya. Media sosial memperkuat budaya ini dengan standar hidup mewah yang serba palsu. Jika dibiarkan, budaya konsumtif akan melahirkan generasi yang miskin kreativitas namun kaya gengsi.
Media sosial ibarat pisau bermata dua yang bisa bermanfaat dan bisa melukai. Di dalamnya bercampur aduk antara ilmu yang bermanfaat, hiburan yang sehat, dan konten yang merusak moral. Sayangnya, banyak pemuda belum memiliki kemampuan untuk menyaring mana yang baik dan mana yang buruk. Mereka menelan semua informasi mentah-mentah tanpa verifikasi dan tabayun. Akibatnya, budaya flexing, ghibah online, ujaran kebencian, dan pornografi dianggap sebagai hal yang lumrah. Filter keimanan dan filter keilmuan belum berfungsi secara maksimal pada diri mereka.
Keluarga sebagai madrasah pertama sebelum anak mengenal dunia luar. Dimana orang tua tidak boleh hanya menjadi penyedia fasilitas gawai dan uang jajan. Orang tua harus hadir sebagai teman dialog, pengarah nilai, dan teladan akhlak bagi anak. Ketahanan keluarga adalah benteng pertama untuk menyelamatkan pemuda dari persoalan kekinian.
Di sisi lain, guru bukan hanya bertugas menyampaikan materi pelajaran di dalam kelas. Guru adalah pembimbing moral yang membentuk karakter dan kepribadian pemuda. Di era digital, guru harus mampu menjadi sosok yang inspiratif dan dekat dengan dunia pemuda. Dengan keteladanan dan pendekatan yang humanis, sekolah dan madrasah akan menjadi ruang aman bagi tumbuhnya pemuda.
Dengan mengoptimalkan peran orang tua dan guru diharapkan pemuda mampu memfilter arus teknologi. Dan tidak terbuai serta terjerumus dengan budaya barat yang bertentangan dengan nilai-nilai dan ajaran Islam. Oleh sebab itu, solusi bagi orang tua untuk menyelamatkan generasi muda adalah pondok pesantren.
Pondok pesantren memiliki sistem pendidikan yang terbukti tangguh menjaga moral generasi muda. Di pesantren, pemuda di didik untuk hidup disiplin, sederhana, dan mandiri dalam bingkai nilai agama. Kurikulumnya yang memadukan ilmu agama, ilmu umum, dan akhlak mampu menjadi filter yang kuat dari budaya asing.
Tradisi ngaji kitab kuning, shalat berjamaah, dan kehidupan 24 jam bersama kiai dan ulama membentuk kekebalan sosial. Pesantren tidak anti-teknologi, tapi mengajarkan pemuda untuk menggunakan teknologi dengan etika. Bahkan banyak pesantren kini telah menjadi pusat lahirnya santri-santri technopreneur yang kreatif. Oleh karena itu, menguatkan kembali peran pesantren adalah solusi strategis untuk menyelamatkan pemuda hari ini.
Opini Redaksi
MediaNu_Pakuniran
LTN NU MWC PAKUNIRAN
