Lantunan Sholawat Nariyah menggema syahdu di Aula MWC NU Pakuniran. Setiap Jumat kliwon, jamaah dari lembaga, Banom, ranting dan warga nahdliyin tumpah ruah mengikuti rutinan majelis yang sudah berjalan istiqomah.
Di tengah kekhusyukan itu, ada pemandangan kecil yang tak pernah absen mencuri perhatian. Inilah tradisi “natah” sandal yang bukan sekadar menata alas kaki yang berantakan. Tapi, sebuah laku khidmah yang dirawat dengan penuh kesadaran.

Di teras kantor MWC NU Pakuniran deretan sandal jamaah yang semula semrawut, dalam sekejap berubah rapi menghadap ke luar. Rapi, berjajar, siap dipakai. Dirapikan atau “di tatah” oleh bapak Ustadz Ahmad Sutikno wakil ketua Tanfidziah MWC NU setempat.
Wakil ketua Tanfidziah menegaskan bahwa pentingnya melestarikan tradisi “natah” sandal dalam setiap kegiatan NU maupun di tengah kehidupan bermasyarakat. Tradisi ini adalah cerminan adab dan bentuk penghormatan kepada tamu.
“Tradisi ‘nata’ sandal dalam berbagai kegiatan itu hal sepele. Tapi bermakna khidmah yang luar biasa,” Ujar Ahmad Sutikno di sela-sela rutinan Jumat kliwon kemarin lusa.
Sedangkan, sekretaris panitia pelaksana M.Agus mengatakan bahwa dari hal kecil itulah nilai-nilai tawadhu’ dan keikhlasan diajarkan. Tidak ada yang merasa lebih tinggi. Semua sama-sama berkhidmah untuk kelancaran majelis.
Ia juga berpesan agar sosialisasi tradisi-tradisi baik seperti ini terus digencarkan. Dengan tanpa membedakan sandal milik siapa yang ditata. (1/11/2026)
Reporter : Ahmad Zaen
Editor : Redaksi
Publisher : Syaifulhq
